Press enter to see results or esc to cancel.

Tampilkan postingan dengan label Umum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Umum. Tampilkan semua postingan
Depan Masjid Teungku Chik di Tiro

Hujan yang cukup deras membasahi setiap kain yang melekat di badan tak menyurutkan semangat kami untuk menelusuri jejak "Indatu" kami warga Aceh yakni pahlawan Nasional Tengku Chik di Tiro.

Usai menyambangi makam Tgk Chik Ditiro yang bernama Muhammad Saman yang dimakamkan di Indrapuri, Aceh besar. Esoknya kami melanjutkan perjalanan ke makam Tgk Chik Ditiro yang bernama Muhammad Amin di temani pemerhati Sejarah Aceh Pang Muda @khalidmuttaqin dan lembaga @beulangongtanoh kami menyusuri setiap sudut pidie menyaksikan peninggalan peradaban Aceh yang masih tersisa.

Oh ya, Tengku Chik Ditiro sendiri adalah gelar yang di sematkan kepada tokoh yang dianggap sangat berjasa untuk perjuangan, kemudian nama Tiro sendiri adalah daerah tokoh tersebut dilahirkan.


Saat menyusuri kabupaten pidie, kami singgah di berbagai lokasi peninggalan sejarah. Salah satunya adalah mesjid tua ratusan tahun peninggalan Teungku Chik yang sudah nyaris roboh tak terawat  dan juga menyaksikan balai yang ratusan tahun lalu Teungku mengajari muridnya tentang berbagai pengetahuan.

Sat ini kondisi sudah terbalik. Seperti masjid peninggalannya kubahnya hampir roboh, kayu-kayu yang menjadi bahan utama masjid sudah terlihat lapuk. Cukup prihatin melihat peninggalan sejarah "Indatu" orang Aceh sudah tak dirawat oleh penerusnya. padahal disinilah basis perjuangan dulu dimulai, bahkan Hasan Tiro ( Cucu Tgk Chik Tiro) mendeklarasikan Gerakan Aceh Merdeka untuk melawan kolonialisme bangsa kita sendiri juga berada di daerah ini.

Di Tugu Makam Tgk Chik Di Tiro, Pidie

Sudah saatnya kita sebagai Rakyat Aceh bergerak untuk melestarikan peninggalan tokoh bangsa yang masih tersisa. Kalau bukan kita siapa lagi.
Yuk bantu pedir Museum Manuscrip dan Aceh Darussalam Academi untuk menggalang dana rehabilitasi mesjid ini!

-Muhammad Irwan
Muhammad Irwan Saat memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Komunikasi

Penuh sesak dan riuh di ruang  sakral yang biasa digunakan untuk yudisium mahasiswa Ilmu Komunikasi. Tak banyak yang kukenal dari mereka kecuali beberapa orang senior dan beberapa teman seangkatan yang masih tersisa.

Saya termasuk salah satu mahasiswa yang kelulusannya lebih lama dibandingkan dengan kebanyakan teman-teman yang lulus tepat pada waktunya bahkan  juga dengan predikat IPK yang sempurna.

Bukannya tidak menginginkan lulus tepat pada waktu bahkan dengan predikat yang sempurna, sungguh sangat saya inginkan waktu itu. Namun, seiring berjalannya waktu. harapan akan lulus cumlaude dan tepat waktu bukan lagi hal utama yang saya prioritaskan. Mengingat harus bekerja sambil kuliah juga sering di beri petuah dari alumni bahwa lulus cumlaude tapi kolot sungguh tak ada artinya di dunia nyata. Lebih baik lulus pada waktu yang tepat dengan segudang pengalaman dibanding lulus tepat waktu tapi nihil pengalaman.

Atas dasar itulah ditahun pertama kuliah ku targetkan menjadi tahun organisasi dan akademisi. Bagiku, tidak cukup aku hanya belajar hardskill di balik meja kuliah tanpa softskill dan networking yang baik. Kuliah ini saatnya membangun relasi sebanyak-banyaknya untuk mensupport mimpiku. Tidak tanggung-tangguang, aku mengikuti 5 organisasi di fakultas dan satu organisasi universitas. Di fakultas aku menjabat beberapa bidang organisasi mulai dari staff Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi (HIMAKO) kemuadian meminpin Organisasi ini, staff Desain Grafis (UKM Seni), staff Penulisan Karya Tulis Ilmiah (UKM KSM-CM), Ketua BEM FISIP Unimal, dan Creatif Officer  Jaroe Aceh Youth Community (JAY-C). untuk organisasi Keluarga Mahasiswa Bidik Misi (KAMADIKSI). Tidak hanya aktif di kampus, sebagai penerima Beasiswa Bidikmisi, aku pun berusaha untuk optimal berkontribusi di BidikMisi. Ya, aku menjadi Mahasiswa Bidikmisi Prestasi Unimal mewakili beberapa ajang perlombaan tingkat Nasional

Konsisten dengan komitmenku, aku harus baik dalam nilai akademik. Targetku waktu itu cukup tinggi, minimal 4,00. Namun, aku tersadar dengan kondisiku. Waktuku tidak hanya untuk belajar saja, akan tetapi akupun harus profesional dalam berorganisasi. Alhamdulillah, meski agak turun dari targetku menjadi 3,73, setidaknya aku dapat mengimbanginya dengan prestasi organisasi.
Setiap detik hariku di tahun kedua ini begitu berarti. Puluhan kepanitiaan Event ku ikuti di sela waktu senggang ku, dari skala lokal hingga skala nasional.

Banyak hal baru yang kupetik di tahun berikutnya. Hal yang paling berharga ku dapatkan adalah pelajaran hidup dan sosialisasi. Baru di tahun ketiga aku bisa membaur dengan teman-temanku yang memiliki tipikal “berseberangan” dengan ku. Melalui BEM FISIP, Allah mengajarkan segalanya mengajarkan tentang berbagi dan mengajarkan tentang arti persahabatan Jumlah teman yang kita miliki akan sangat banyak ketika kita menghitungnya. Namun itu semua akan berubah menjadi sedikit pada saat kita berada dalam kondisi sulit. Oragnisi ini telah banyak mengajarkanku.



Beberapa bulan yang lalu adalah bulan penuh pergulatan. Usai sidang lalu revisi sembari mengurusi persyaratan- persyaratan yudisium yang begitu pelik. Usai melengkapi syarat yudis, ternyata tak jadi yudis di bulan tersebut dan harus menunggu beberapa bulan lagi. Bahkan ada kawan-kawan yang sudah antri sejak bulan mei lalu.

Selama menjadi mahasiswa saya merasakan banyak hal di perjalanan ini.terkadang hampir rapuh, butuh kekuatan dan kesabaran ekstra full untuk menjalaninya. Faktor yang membuatku bertahan di perjalanan akademik ini adalah orang tuaku. Wajah mereka kerap kali menyambangi pelupuk pelupuk mataku. Karena mereka aku bisa sampai ke fase yang jauh ini.



Orang tuaku merupakan motivasi terbesarku menuntaskan apa yang telah kumulai. Motivasi selanjutnya adalah aku tak mau mengecewakan jutaan rakyat Indonesia yang telah menyumbangkan pajaknya untuk aku bisa kuliah yang berikan melalui program Bidikmisi.
Hari ini aku memulai dengan senyuman.kulihat matahari juga ikut mengaminkan. Hati gundah gulana menunggu keabsahan sarjana ku telah tiba. Kini aku patut berbangga atas pencapaian yang diberikan Allah. Saatnya menata kembali impian2 yang belum dituntaskan.

Kini karena Bidikmisi banyak impian bisa diukir menjadi kenyataan. But, the battle is so far from ending. Perjuangan harus dilanjutkan agar sukses kuliah juga bisa berarti dalam sukses pekerjaan dan mengabdi bagi bangsa dan negara.[]


Muhammad Irwan
(Almunus Ilmu Komunikasi Unimal)

BJ Habibie

Assalamu'alaikum...
Untuk renungan kita bersama...

REALITA .....
BJ HABIBIE
Ternyata kembali ke nol .... tidak ada yang dapat  dibanggakan.... dulu bangga dengan jabatan apa itu Nakhoda apa itu KKM apa itu Direktur apa itu Bos perusahaan  besar     ......... busiiiit semua 🤭🤭🤭😭😭😭😭😭😭.                             

Ungkapan Hati BJ Habibie soal akhirat  yang bikin merinding
8 Jan 2019

NONSTOPNEWS.ID - Pidato BJ Habibie viral. Mantan Presiden RI ini menuliskan tentang kisah hidupnya.

SAAT KEMATIAN ITU KIAN DEKAT.

KALAULAH SEMPAT ? Renungan utk kita semua !!!!
--------------------( by BJ Habibie ketika berpidato di Kairo, beliau berpesan "Saya diberikan kenikmatan oleh Allah ilmu technology sehingga saya bisa membuat pesawat terbang, tapi sekarang saya tahu bahwa ilmu agama itu lebih bermanfaat untuk umat .Kalo saya disuruh memilih antara keduanya maka saya akan memilih ilmu Agama." )

Sepi penghuni...
Istri sudah meninggal... 
Tangan menggigil karena lemah...
Penyakit menggerogoti sejak lama...
Duduk tak enak, berjalan pun tak nyaman... Untunglah seorang kerabat jauh mau tinggal bersama menemani beserta seorang pembantu...

Tiga anak, semuanya sukses... berpendidikan tinggi sampai ke luar negeri...
» Ada yang sekarang berkarir di luar negeri... »
Ada yang bekerja di perusahaan asing dengan posisi tinggi... »
Dan ada pula yang jadi pengusaha ...

Soal Ekonomi, saya angkat dua jempol » semuanya kaya raya...

Namun....
Saat tua seperti ini dia "merasa hampa", ada "pilu mendesak" disudut hatinya..

Tidur tak nyaman...
Dia berjalan memandangi foto-foto masa lalunya ketika masih perkasa & enegik yg penuh kenangan

Di rumah yang besar dia merasa kesepian, tiada suara anak, cucu, hanya detak jam dinding yang berbunyi teratur...

Punggungnya terasa sakit, sesekali air liurnya keluar dari mulutnya....
Dari sudut mata ada air yang menetes.. rindu dikunjungi anak-anak nya

Tapi semua anak nya sibuk dan tinggal jauh di kota atau negara lain...
Ingin pergi ke tempat ibadah namun badan tak mampu berjalan....

Sudah terlanjur melemah...

Begitu lama waktu ini bergerak, tatapannya hampa, jiwanya kosong, hanya gelisah yang menyeruak...
sepanjang waktu .... 

Laki-laki renta itu, barangkali adalah Saya... atau barangkali adalah Anda yang membaca tulisan ini suatu saat nanti_
Hanya menunggu sesuatu yg tak pasti...
yang pasti hanyalah KEMATIAN.
Rumah besar tak mampu lagi menyenangkan hatinya..._
Anak sukses tak mampu lagi menyejukkan rumah mewahnya yang ber AC...
Cucu-cucu yang hanya seperti orang asing bila datang..._
Asset-asset produktif yang terus menghasilkan, entah untuk siapa .?

Kira-kira jika malaikat "datang menjemput", akan seperti apakah kematian nya nanti.

Siapa yang akan memandikan ?

Dimana akan dikuburkan ??

Sempatkah anak kesayangan dan menjadi kebanggaannya datang mengurus jenazah dan menguburkan?

Apa amal yang akan dibawa ke akhirat nanti?
Rumah akan di tinggal, asset juga akan di tinggal pula...
Anak-anak entah apakah akan ingat berdoa untuk kita atau tidak ???
Sedang ibadah mereka sendiri saja belum tentu dikerjakan ???
Apa lagi jika anak tak sempat dididik sesuai tuntunan agama???  Ilmu agama hanya sebagai sisipan saja..._

"Kalau lah sempat" menyumbang yang cukup berarti di tempat ibadah, Rumah Yatim, Panti Asuhan atau ke tempat-tempat di jalan Allah yang lainnya...

"Kalau lah sempat" dahulu membeli sayur dan melebihkan uang pada nenek tua yang selalu datang...... 

"Kalau lah sempat" memberikan sandal untuk disumbangkan ke tempat ibadah agar dipakai oleh orang yang memerlukan..... 

"Kalau lah sempat" membelikan buah buat tetangga, kenalan, kerabat, dan handai taulan...

Kalau lah kita tidak kikir kepada sesama, mungkin itu semua akan menjadi "Amal Penolong" nya ...

Kalaulah dahulu anak disiapkan menjadi 'Orang yang shaleh', dan 'Ilmu Agama' nya lebih diutamakan

Ibadah sedekahnya di bimbing/diajarkan & diperhatikan, maka mungkin senantiasa akan 'Terbangun Malam', 'meneteskan air mata' mendoakan orang tuanya.

Kalaulah sempat membagi ilmu dengan ikhlas pada orang sehingga bermanfaat bagi sesama...

"KALAULAH SEMPAT"

Mengapa kalau sempat ?
Mengapa itu semua tidak jadi perhatian utama kita ?  Sungguh kita tidak adil pada diri sendiri.  Kenapa kita tidak lebih serius?
Menyiapkan 'bekal' untuk menghadap-Nya dan 'Mempertanggung Jawabkan kepadaNya?
Jangan terbuai dengan 'Kehidupan Dunia' yang  bisa  melalaikan.....

Kita boleh saja giat berusaha di dunia....tapi jadikan itu untuk bekal kita pada perjalanan panjang & kekal di akhir hidup kita.

( bagi yang  menyebarkan catatan ini semoga menjadi sodaqoh ilmu & ladang amal Shaleh)_

Teruslah menjadi  "si penabur  kebajikan" selama hayat masih dikandung badan meski hanya sepotong pesan.

Semoga Bermanfaat...🙏

Prof. Dr. Ing. BJ. Habibie

Beberapa hari yang lalu saat aku di Banda Aceh, ada seorang teman WA aku
"Wan, Tanggal 9 minta tolong ambil video di pesta aku dong" pintanya
"Aku lagi di Banda ni gmn?takutnya belum pulang di tanggal itu" jawabku
"Tolong dong, kamu ambil nanti yah. Taggal 9 Jam 8 udah ada di rumah aku ya" mohonnya sambil menambah emoticon tangan menyatu
" Baiklah Insyaallah aku usahakan"

Tibalah hari H nya yaitu hari ini tanggal 9. Aku meluncur dari rumah menuju tempatnya yang jaraknya lebih dari 29 KM melewati jalan lintas Medan Banda Aceh.

Sesampai disana, sembari menunggu kawanku dari Bireuen yang aku minta ikut bantu aku ambil video,aku menghubungi kawan yang memesan video ini.

"Halo mbak O.... Aku udah di TKP ini tapi nunggu kawan bentar baru masuk"
" Waduh Wan mohon maaf orang ambil videonya sudah ada ni" jawabnya via handphone.
"jadi ngapain mbak minta tolong saya kalo orang ambil video sudah ada"tanyaku
"Mohon maaf wan" jawabnya

Langsung aku tutup telpon sekalian putar arah untuk pulang.

Terimakasih kawanku, atas ke plin plananmu ( tidak jelasan) telah terbuang beberapa waktuku. Sebenarnya aku tak marah, dendam apalagi. Sedikit kecewa iya. Mungkin ini hal sepele bagi kamu. Tapi tau tidak. Seandainya aku gak memutuskan join di agendamu ada order lain yang aku dapatkan.mungkin dari segi finansial lebih menguntungkan dan nyatanya aku tolak. Seandainya lagi aku gak memutuskan ikut ke agendamu mungkin aku bisa wekend di Banda Aceh tanpa harus buru2 pulang hanya karena acaramu[]

By : Muhammad Irwan

diskusi di ruang tamu Markas Rumbia, Banda Aceh
Berdiskusi ringan di Markas Rumbia dengan beberapa tokoh Aceh yang menetap di Pulau Jawa.
——-
Rumbia merupakan organisasi yang berkomitmen untuk membangun ekonomi masyarakat melalui pemanfaatan energi terbarukan dan peningkatan pengetahuan mengenai energi bersih. bahwa untuk mewujudkan komunitas yang sejahtera, energi terbarukan harus dimanfaatkan dalam kegiatan rumah tangga dan bermasyarakat. Bekerja sama dengan pemerintah dan sejumlah kelompok masyarakat, Rumbia tidak hanya meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai energi bersih dan konsumsi energi, tetapi juga memberikan pelatihan, edukasi, dan strategi konkrit yang dibutuhkan untuk menuju masyarakat bijak energi. berdiri sejak desember 2016 lalu
Makwa yang lingkaran merah

Innalillahi wainna ilaihi rajiun. Saya baru saya kehilangan satu lagi orang terkasih dalam hidup saya. Beliau layaknya orang tua kedua bagi saya kebaikan beliau hampir setara dengan orang tua sendiri.

Beliau adalah makwa (kakak kandung dari mamak saya Aceh-red)   Yang tinggal di Jeulikat, Blang Mangat Kota Lhokseumawe.

Tepat jam 4 pagi beliau telah berpulang kerahmatullah setelah mengalami penyakit lumpuh hampir 5 tahun lamanya.

Kebaikannya dungguh luar biasa bagi keluarga saya. Bagaimana tidak. Sering mamak saya bercerita kepada saya bahwa saat awal pernikahannya dengan ayah. Orang yang paling pertama yang modalin untuk kehidupan kami adalah kakaknya yg meninggal hari ini.

Tidak hanya itu sering kali jika saya sekarat uang saat sekolah dulu bahkan kuliah. Beliaulah salah satu pahlawan yang siap sedia membantu meringankan hal itu. Padahal penghasilan beliau hanya dari pensiunan Almarhum suaminya yang seorang hakim. Tapi selalu saja ada cara untuk membantu kami.

Bahkan selain kebaikannya yang tak terbalaskan, beliau juga sanggup mendidik anak anaknya jadi orang yang saleh dan salehah.

Hari ini yang jadi imam menyalatkan beliau adalah anaknya dan diikuti puluhan jamaah lainnya.

Selamat jalan “makwa” ku semoga kebaikannmu memuluskan jalan ke surga.

Saya jadi ingat  apa yang dikatakan Ustadz Abu Zubair Hawaary, Lc ntik ketika kelak saya mening Siapa yang akan menyolatkan kelak ?



                         
Saudaraku...
Sudahkan engkau memilih orang-orang yang akan berdiri kelak mengisi shaf-shafmu, dibelakang jenazahmu ketika kamu disholatkan?

Pertanyaan yang aneh, dan barangkali malah membingungkan. Apa mungkin kita memilih orang-orang yang menyolatkan jenazah kita? Apa mungkin kita memilih orang-orang yang mendoakan kita

Adalah hal yang lazim, bahwa biasanya yang menyolatkan seseorang adalah orang yang mencintainya, teman-teman dekatnya, karib kerabat dan orang-orang yang mengenalnya. Merekalah yang lazimnya berdiri kelak di shaf, dibelakang jenazahnya ketika di sholatkan.

Sudahkah anda berfikir?
Siapakah kelak yang menangis disisi anda, ketika anda meregang nyawa, mengembuskan nafas terakhir dan mentalqilkan anda " Laa illaha ilallahu"?

Sudahkah anda berfikir?
Siapakah kelak yang akan memandikan jasad anda dan mengkafankan tubuh anda ?

Sudahkah anda berfikir?
Siapakah kelak yang akan menyolatkan anda, mengantarkan ke kuburan, bahkan menurunkan ke liang lahat?.

Lalu siapa pula yang berdiri dan berdoa kepada Allah Subhana wa Ta'ala, agar engkau diberi keteguhan, saat ditanya malaikat di alam barzah.

Sekarang cobalah lihat ketika jenazah diantar ke kuburan? Cobalah lihat, siapa yang mengantar ke kuburan?

Bukankah orang-orang yang sama seperti yang diantar? Bukankah orang-orang yang sama, yang dekat, yang ketika di dunia saling mengenal dan mencintai?


Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa salam bersabda :

"Jangan kamu bersahabat, melainkan dengan orang mukmin, dan jangan berikan makan, kecuali kepada orang yang bertakwa." (HR. Abu Daud dan At-Tirmizi).

Bukankah perumpamaan teman yang baik seperti penjual wangi-wangian?
Sedangkan perumpamaan teman yang buruk, seperti pandai besi?



Saudaraku...
Inilah realita didunia, lebih baik kita menelan pil pahit di dunia, daripada kita menelan pil pahit di yaumil qiyamah kelak.



Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam bersabda :

"Tidaklah seorang muslim meninggal dunia lantas dishalatkan (shalat jenazah) oleh 40 orang yang tidak berbuat syirik kepada Allah sedikitpun, melainkan Allah akan memperkenankan syafa'at ( do'a) mereka untuknya." (HR. Muslim No. 948).

Tidaklah kita ingin orang-orang Sholeh, mendoakan disampingmu, ketika anda wafat? Lalu mentalqinkanmu, lalu memandikanmu, mengkafankanmu, menyolatkanmu, mengantarkan dan menurunkan jenazahmu ke liang lahat sesuai sunnah Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam?

Kemudian setelah itu mereka menengadahkan kedua tangan, berdoa kepada Allah Subhana wa Ta'ala, memintakan ampunan untukmu. Tidak pernahkah engkau membayangkan, betapa indahnya ini?

Ketahuilah, ketika anda wafat, orang yang bersedih adalah orang-orang yang mengenal anda. Ketahuilah, ketika anda wafat, orang yang menangis adalah orang yang mengenal anda.



Maka dari sekarang, wahai saudaraku...

Pilihlah orang-orang yang akan menyolatkanmu kelak dan yang mendoakammu kelak. Apakah engkau akan memilih orang-orang Sholeh atau orang-orang yang bermaksiat?

Apakah engkau mengira, bahwa kelak yang akan mendo'akan dan menyolatkanmu adalah orang-orang yang mengajakmu ke majelis ilmu (taman-taman surga) atau orang yang mengajakmu bermain bola? Yang mengajakmu hura-hura, yang mengajakmu menonton sinetron atau drama?

Apakah engkau ingin yang menyolatkanmu kelak adalah orang-orang yang rajin membaca Al-Qur'an dan ketika berbicara mengatakan “Qalallahu atau Qala Rosulullahu Shalallahu 'Alaihi Wasallam?” Ataukah orang yang selalu berkata kasar, kotor, keji dan menyampaikan berita-berita yang tidak baik kepada anda?

Siapa yang anda inginkan menyolatkan anda kelak?

Apakah yang anda pilih orang-orang yang berdiri shaf-shaf sholat lima waktu dimasjid masjid kaum muslimin? Ataukah orang yang tidak sholat, sibuk bermain gitar, domino dsb ?

Pilih saudaraku...

Oleh karena itu, jangan berteman kecuali dengan orang-orang Sholeh, jangan bersahabat, kecuali dengan orang yang bertaqwa dan berusahalah untuk bersahabat dengan orang-orang mukmin yang bertauhid dan tidak menyekutukan Allah dengan suatu apapun.

Mudah-mudahan kelak mereka yang akan mendo'akanmu dan mereka yang akan menyolatkanmu, sehingga mereka yang menjadi syafaatmu di yaumil akhir kelak. Aamiin...

*



Congratulation Untuk kawanku Muhammad Rizki Sitompul dan Fajar Mulia Riski atas Perolehan Sarjana Ilmu Komunikasinya. barakallah untuk keduanya.

Pesanku cuma satu " yuk jangan jadi Sarjana Kertas!" buatlah titelnya bisa bermanfaat untuku, keluargamu dan bangsamu. 



Bersama Rizki Sitompul Usai Sidang

di Puncak tertinggi gayo

Dalam mendaki gunung. Saya lebih baik tidur dalam kondisi menggigil dibawah terpal bersama sama tapi solid daripada punya tim gagah gagahan tidur di tenda camping yg komplit tapi timnya tak kompak.

Kualitas seseorang benar2 bisa diuji saat pendakian gunung. Baik segi fisiknya maupun tabiatnya.memang mendaki gunung seperti itu. Dalam keadaan sulit  jati diri manusia akan terlihat. Karena justru disitulah istimewanya gunung Dan hutan. Uang dan kekayaan tak lagi sberti di kota, canda dan tawa juga tak lagi sepura- pura dikota begitu juga halnya persahabatan tak lagi sepalsu dikota.

16 Agustus 2019 kami bersama enam orang teman melakukan pendakian ke puncak gung burni telong, Bener Meriah Aceh. Kegiatan ini salah satunya bertujuan untuk merayakan kemerdekaan indonesia yang ke -74.

Jumat itu, Tepat pukul 9.30 Wib kami berangkat dari kota lhokseumawe menuju bener meriah, sesampai di Simpang elak kami berhenti sejnak untuk belanja logistik secukupnya buat bekal di puncak nantinya sembari menunggu beberpa teman saya yang belum sampai.

Setelah selesai semua kami melanjutkan perjalanan melewati jalan KKA-Benermeriah yang memanjakan mata dengan gunung-gunung yg hijau dan udara dingin yang bikin adem sepanjang perjalanan.

Sesampai di Bener Meriah kami memutuskan untuk Salat dan makan siang sebelum menuju posko pendakian.

Usai salat dan makan kami menghidupkan kembali motor untuk segera melaju ke posko pendakian untuk melakukan registrasi dan pendakian.


Tepat pukul 2.40 kami berenam tiba diposko pendakian. Usai registrasi tim bergegas memasang tas dan carier di pundak masing- masing untuk segera menyusuri belantara gung burni telong.

Berhubung pendakian kami ini bertepatan esoknya tanggal 17 agustus maka pendaki- pendaki tumpat ruah memadati antrian registrasi dan di jalur pendakian. Mulai dari anak SMA sampai pendaki profesional pun ada baik cowo maupun cowok sudah gagah dengan peralatannya masing- masing.

Saya, Riski dan Fikar adalah Tim dari enam orang tadi yang pisah jadi dua, tiga orang lagi melaju dengan cepat menuju shelter 3 agar bisa segera memiliki tempat untuk pasang tenda kami yag lumayan besar yang muat lebih dari 6 orang. Dengan alasan jika tak ada yg naik lebih dulu untuk pasang tenda ditakutkan sudah tak ada lapak lagi karena sudah penuh dengan tenda tenda pendaki yang duluan sampai.(bersambung)

Tidak mudah untuk bisa hidup dan survive di sebuah platform. Itulah yang saya alami saat mencoba peruntungan dari beberapa platform blogging yang berbasis blockchain.

Saya Muhammad Irwan Alumnus Ilmu Komunikasi Universitas Malikussaleh. Dunia blogging sudah saya geluti beberapa tahun lalu sejak masih status sebagai mahasiswa.

Dimulai dari sebuah blogspot gratis saat itu saya mulai ngeblog dengan tulisan percobaan yang isinya antah- berantah menghisasi dinding blog saya untuk sekedar melengkapi tugas Dosen di awal perkuliahan.

Seiring berkembangnya waktu saya mulai tertarik untuk tetap menulis di blog, ditambah background keilmuan saat kuliah adalah Jurnalistik, dari situlah saya berpikir untuk harus bisa menulis, ya setidaknya alumnus jurnalistik selemah-lemahnya iman bisalah menulis story telling atau pengalaman- pengalaman untuk diceritakan dalam bentuk tulisan.

Akhir tahun 2017 saya mengenal dunia Blockchain terutama Platform steemit. Di Platform ini selain bisa ngeblog dan berkarya sesuai passion kita. Disini kita juga dibayar dengan Dollar SBD dengan sistem Blockchain yang fantastis saat itu.

Saya mulai menggeluti platform ini diajarkan langsung oleh dosen saya pak @dsatria yang memang sudah expert dibidang ini tentu beliau juga banyak tau  tentang Platform-platform yang potensial untuk blogger.

Bersama Pak Dedi Satria

Setelah saya dalami ilmu dari pak @dsatria kemudian saya aplikasikan walaupun kemudian tidak juga mendapatkan penghasilan sebagaimana guru saya dan kawan-kawannya dapatkan.

Hal itu tak lantas membuat saya patah semangat, karena tujuan utama saya bukan materil tapi bagaimana dengan adanya platform ini membuat skill menulis saya tetap tumbuh. Toh kalaupun dapat hasil berupa uang syukur,saya menganggap itu adalah bonus bukan tujuan utama. Saya tetap konsisten berkarya sebagiamana biasanya.

Beberapa hari yang lalu saat saya kekampus bertemu lagi dengan guru saya pak @dsatria sekaligus mengenlkan pada saya sebuah platform baru bernama Weku. Saya belum begitu mengenla dengan platform ini. Tapi akan saya dalmi tahapan demi tahapan dengan pak @dsatria mengenai akun ini.

Rasa syukur saya kepada tuhan yang selalu memberi jalan lewat guru saya ini. Mudahan dengan platform weku ini saya bisa tetap survive berkarya.aminn

Aceh Utara, 7 Agustus 2019
By : Muhammad Irwan
Usai Sidang Skripsi



Banyak hal yang telah dikorbankan untuk sampai ke tahap akhir ini, tiba saatnya mengenang kembali masa research yang berpeluh.

Suatu waktu itu pernah berpikir untuk berhenti namun terikat satu ungkapan yangg pernah diucapkn senior saya namanya Nanda Feriana " yakin mau mundur di medan perang? sesuatu yg sudah dimulai harus dituntaskan" katanya
Kadang ungkapan seseorang bisa melecutkan semangat untuk bangkit kembali.itulah realitanya kalau ungkapan itu di ucapkan oleh seseorang yang benar-benar tulus untuk kita bukan yang muluk-muluk.

Penelitian saya mungkin tak semenarik penelitian-penelitian yang lain, bahkan tak terpikirkan olehku penelitian ini akan sampai ke tahap ini, karena pelitiannya sangat "asing" bagi sebagian orang. Bahkan hampir dua tahun kubiarkan teronggok manis diantara file-file kerjaanku di laptop laptop samsung lama yg masih bersahabat hingga 8 tahun usiannya. Karena bagiku saat itu menyelesaikan pekerjaan dan kompetisi kemahasiswaan lebih menarik daripada mengerjakan penelitian yg rasanya sangat menyeberang dari pengetahuan ku.


Paragraf demi paragraf sesekali aku tulis sembari melihat baris baris mimpiku yg bergantung di dinding, yg rasanya tak mungkin terselesaikan lagi padahal dulu dinding itu menjadi tempat yg sakral bagiku.

Ah sudahlah, manusia lamban ini sekarang telah menyelesaikan fase ini diantara bayak impian yg terukur. Mungkin kelak pada masanya kita kan merindukan kembali masa-masa itu. Mungkin tuhan punya rencana lain untuk kehidupan mendatang.
Bersama Sahabat saya Sadra Munawar dan Dosen saya Bu Harina

Terimakasih untuk kedua orang tuaku, para Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Malikussaleh yang telah membuka jendela pengetahuan untukku dan juga terimakasih juga sahabat yg telah support selama ini.
Usai Sidang berswa foto dengan kedua dosen pembimbing dan dua dosen penguji saya



By : Muhammad Irwan
Lhokseumawe, 8 July 2019

Dari Manakah Saya?
Dari manakah saya?
Sebuah pertanyaan yang jarang kita tanyakan pada diri kita, padahal ini pertanyaan penting untuk menentukan kemana arah hidup kita.

Peta ini saya buat dalam bentuk Visual supaya mudah saya menelusurinya. reverensi ini saya dapatkan dari Ibu Dr. Marwah Daud Ibrahim dalam Bukunya Merancang Hidup Merencanakan Masa Depan (MHMD). cara-cara ini telah diaplikasin langsung oleh bu Doktor dalam mwujudkan satu persatu impiannya. mulai dari Kuliah di Amerika sampai menjadi DPR-RI saat itu.

Oleh karenaitu saya akan memetakan kembali kehidupan saya, mulai dari tahap awal ini. nanti satu persatu akan saya tambah peta lanjutan tentang rencana masa depan saya.

Lhokseumawe, 27 Juli 2019
By : Muhammad Irwan
ini merupakan video Vlog #1 aku saat berada di Kuala Lumpur
dalam video menceritakan step by setep awal mula perjalanan aku keluar negeri tepatnya kali pertama aku ke Kuala Lumpur. dari sini aku bisa melihat jelas perbedaan yang sangat signifikan anatara Indonesia dan Malaysia dari segi teknologinya maupun tingkat kesadaran masyarakat. disini seakan aku menjelah Eropa, karena melihat peradaban yang begitu menakjubkan yang belum pernah terbayangkan sebelumnya.

yuk simak di Youtube berikut :
irwan komunikasi

Prosesi Cambuk Pelanggar Syariat di Aceh


lHOKSEUMAWE : ini merupakan eksekusi hukuman cambuk yang di lakukan di halaman Masjid Agung Islamic Center (MIC) kota Lhokseumawe terhadap 2 terpidana kasus pencabulan anak dibawah umur. Eksekusi berlangsung selesai pelaksanaan ibadah salat Jumat (23/03), di masjid agung Islamic center, dengan disaksikan oleh masyarakat umum.
yuk saksiakan di youtube saya berikut :Cambuk Sampai Berdarah lalu Tewas
Trainer Google Indonesia (Hotli Simajuntak)

Senin (10/12/2018) Google news initiative bekerjasama dengan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Lhokseumawe menyelenggarakan acara hoax busting and digital hygiene bagi masyarakat umum.

Saya beruntung bisa ambil bagian dalam acara ini dan patut berterimkasih kepada kanda Ayi Jufridar karena telah berbaik hati mengundang kami dari Forum Aceh menulis untuk bisa mengikuti acara ini.

Acara ini di isi langsung oleh tim Google Indonesia bung Hotli Simajuntak didamping rekan dari AJI Indonesia bung Geril Dwira dan bung Hendra Makmur, mereka memaparkan tips-tips bagaimana memferivikasi setiap berita di media online agar tidak mudah termakan hoax dan fitnah.


Hoax di Indonesia berkembang begitu pesat dari tahun ketahun. Yang jadi korban bukan hanya rakyat biasa bahkan sekaliber menteri dan politisi juga sering termakan hoax. Kita tentu ingat beberapa waktu lalu bagaimana kasus Rekayasa Ratna Sarumpaet.begitu banyak orang yang jadi korban.

Ada beberapa cara yang diajarkan oleh trainer agar kita tidak mudah termakan hoax antara lain ketika kita melihat gambar disertai caption tentang sebuah peristiwa jangan langsung percaya.salah satu cara memverifikasinya cukup dengan klik firstdraftnew.org disini kita bisa mengecek kebenaran gambar tersebut dengan menelususri inti gamabar melalui searh engine.

Cara lain yang diajarkan disini adalah dengan melihat keamanan password kita. Untuk mengetahui kita bisa klik howsecureismypassword.net disitus ini kita bisa menguji sejauh mana password kita bisa diretas orang.

Kemudian cara mendeteksi seberapa aman email kita. Tersedia juga link untuk melihatnya melalui haveibeenpwned.com disini terdeteksi kalau kita punya dosa masalalu ( maksudnya pernah mengakses situs-situs terlarang).



Dan masih banyak sekali ilmu yang diajarkan oleh trainer tersebut yang initinya gak ada satupun tool yang mujarab. Jadi sosial media benar-benar tidak aman, tak ada yang benar-benar aman orang bisa saja menyalahgunakan data kita. Maka hati-hatilah berselancar di dunia maya.
bersama Bung Geril



Foto Bersama Penulis Ayi Jufridar

Jangan menunggu ide untuk menulis, menulislah maka akan menemukan ide. (Ayi juf)
Kata-kata itu begitu membekas dihati saya dan seluruh perserta Forum Aceh Menulis (FAMe) hari ini. Ya memang begitulah, tidak ada teori karena dengan actionlah kita akan menemukan jalannya.
Tepat 8 Desember 2018 hari ini pertemuan ke-34 FAMe. Beruntung sekali hari ini pematerinya adalah penulis hebat Aceh yaitu Ayi Jufridar, siapa yg tak kenal beliau? Saya rasa semua pegiat dunia literasi pasti mengenalnya. Begitu banyak karya-karyanya telah terbit di berbagai surat kabar ditambah lagi novel "Putroe Neng" dan " jejak gerilya Sudirman" dua mahakarya yang telah menggugah banyak pembaca.
Sesi Belajar Menulis

Yang lebih mengejutkan lagi banyak karya yang beliau tulis ternyata hanya dalam sekali duduk. Trik dan tips inilah yang beliau bagikan ke peserta FAMe hari.
Memang menulis dalam sekali duduk tidak mudah, apalagi menulis cerpen bagi pemula. Namun, pesan beliau tetaplah menulis dan berusaha menyelesaikan dengan baik. Persoalan kesalahan dan lainnya bisa diselesaikan setelah merampungkan tulisan nantinya.

Penulisan dalam sekali duduk bukan berarti tulisan yang buru buru ya. Karena beda antar buru-buru dengat cepat. Cepat itu terkontrol sedangkan terburu-buru tak terkontrol.

Bahkan ayi jufridar bisa merampungkan puisinya saat perjalanan dalam pesawat dari Medan menuju Jogja. Ini sungguh menakjubkan. Karena ada ketika menulis ada kenyamanan didalamnya.
Untuk menuju ke proses tersebut memang kita perlu istiqamah dalam menulis. Dan bukan mustahil bisa dengan mudah melakukannya. Menulis itu yang penting action dan meluangkan waktu untuk menulis kapanpun dimanapun. Karena ide dimanapun bisa kita dapatkan Apalagi kita yang tinggal di Aceh. " Aceh adalah museum ide" kata Ayi Jufridar

Ya, di Aceh bigitu banyak yang bisa kita tulis. Tinggal kemauan kita sekarang, mau atau tidak.
Ayo budayakan menulis, membumikan Literasi di serambi mekah.


By: Muhammad Irwan



"Kau bisa hitamkan putihku Kau takkan gelapkan apapun
Kau bisa runtuhkan jalanku Kan ku temukan jalan yang lain". (Tulus)

Beberapa hal di dunia ini berhak mendapatkan kesempatan kedua termasuk mendaki gunung.
syukur pada tuhan mendaki kali ini bukan lagi kali kedua bagi saya.tuhan telah memberi kesempatan bertubi-tubi untuk bisa menikmati keindahan gunung dan menghirup udara bebas nan segar.

setelah makan siang dengan Nugget di Shelter pintu Angin. kami segera bergegas menggerakkan langkah menuju shelter selanjutnya yakni Batu gajah. menapaki setapak demi setapak hutan belantara Seulawah Agam. kadang juga sering melewati pohon besar yang tumbang  di  jalur pendakian.

hari semakin gelap, shelter batu gajah belum juga kami jumpai. banyak pendaki yang bertanya-tanya "kapan sih sampai ke batu gajah?" sudah sejauh ini perjalanan belum juga menemukan shelter selanjutnya.

di dalam penuh penasaran kami terus menggerakan alunan kaki untuk terus melangkah. namun perjalanan ini tidak terasa berat.karena banyak dalam tim ini jago guyonan. satu guyonan yang sangat membekas adalah guyonannya Aliya.

Aliya adalah salah satu pendaki perempuan di tim kami dengan  tipikal wajah oval berkulit putih dan sedikit kurus. dia tak henti-hentinya membuat guyonan dengan seakan akan memanggil seseorang dengan kata "Hey" namun ketika ada yang menyahutinya dia langsung menyanyikan "hey tayo...hey tayoo" (lirik lagu dalam film Animasi Tayo the Little Bus) kadang banyak yang geram bercampur senang karena kelelahan sudah terlupakan dengan lirik lagu yang dinyanyikan itu.

hari semakin gelap jadwal Asar sebentar lagi akan segera berakhir, saya dan sebagian  kawan-kawan telah tiba di salah satu titik peristirahatan yang tempatnya lumayan datar. saya mengusulkan kepada kawan-kawan untuk menunggu kawan-kawan yang masih jauh tertinggal dibelakang. sembari menunggu yang lain sebagian kami yang muslim segera melaksanakan ibadah Salat Asar dengan menggelar matras sebagai musala untuk sembahyang.

dengan air seadanya yang ditampung dalam botol plastik oleh pendaki-pendaki sebelumnya yang digantungkan dipohonlah air untuk kami berwudhu'. sungguh mulia rasanya pendaki-pendaki disini. mereka tidak hanya memikirkan dirinya sendiri tapi mereka memikirkan kemaslahatan bersama. buktinya banyak tempat-tempat penampung air yang mereka buat semata semata kalau ada orang yang kehausan dan kehabisan air, tampungan itu menjadi solusinya.

setelah berkumpul semua. kami terus melanjutkan perjalanan ke batu gajah. track kali ini semakin terjal dan licin. dan akhirnya batu gajahpun terlihat. banyak kawan-kawan merasa gembira. karena kurang lebih 45 menit lagi kita akan tiba di puncak.
foto Bersama di Shelter Batu gajah

waktu tercatat tepat puku 18.37 kami tiba di batu gajah. sebagian kawan-kawan tidak lupa mengabadikan momen di Batu Gajah ini. begitu juga dengan saya, meski kamera hp sudah tidak sanggup lagi menangkap cahaya yang semakin kecil namun foto tetap harus ada.
setelah berfoto ria di batu gajah. tidak menunggu lama  semua kami terus mnyusuri hutan lumut disana. dan hari sudah sangat gelap. saya mengeluarkan senter  dari dalam tas untuk menerangi jalur pendakian.

seperti sebelumnya perjalan kami selalu terpisah-pisah. kali ini kami orang yang paling depan yakni bersama Aldi, Laras, Oja, Desi, Nisa, Maya dan Puja. Aldi berjalan paling depan bersama Puja. ditengah perjalan Aldi terperosok ke salah Satu Goa bermuka kecil yang membuat kakinya terkilir. saya menyenteri Aldi sembari menarik kakinya yang terkilir yang kemudian kami melanjutkan perjalanan dengan penuh kehati-hatian.

Aldi terus mengerang kesakitan, namun tetap melanjutkan perjalanan hingga kami tiba di tugu. tugu ini menandakan bahwa kami telah tiba di pucak. saya dan kawan-kawan mengucapkan Alhamdulillah. kami telah menemukan garis finish dari Seulawah Agam. Aldi Segera Mengumandangkan Suara  Azan. dan saya tak membiarkan momen ini lewat begitu saja, saya segera mengambil hanphone di saku kiri celana saya untuk segera merekam momen bersejarah ini.

lalu satu persatu kawan yang lain tiba di garis finish. kami segera mengambil air wudhu' yang sudah ada di tampungan dekat tugu untuk segera menunaikan salat magrib berjamaah.

setelah salat magrib kami segera menggelar tenda masing-masing ditengah guyuran hujan gerimis yang dinginnya menusuk ketulang-tulang kami.

tidak lama setelah itu kami segera menyiapkan makan malam bersama dibawah tenda yang telah diapsang Bang Tulen pemandu perjalanan kami. lalu kami terlelap tidur dengan cuaca kurang lebih 10 derjat Celcius.

subhanallah saya begitu kagum dengan ciptaannya. saya telah jatuh cinta pada Alam. saya bermimpi suatu saat bisa mendaki puncak Himalaya. semua atas Izin-Nya. kalau Kita Percaya tuhan Maha Besar makan kita tidak takut bermimpi besar. karena Semua mudah baginya.
 
Di Puncak Seulawah Agam
Salam lestari..
Salam Literasi...

By: Muhammad Irwan (Entrepreneur, Writer & Traveler)